Open Government Partnership (OGP) yang diluncurkan pada 2011 mempunyai visi memperkuat demokrasi dengan mendorong pemerintahan melakukan reformasi tata kelola pemerintahan yang semakin transparan, akuntabel dan membuka ruang partisipatif masyarakat untuk terlibat dalam pengambilan keputusan.

 

Bentuk transparansi diantaranya adalah membuka data yang diperlukan publik. Keterbukaan data juga mensyaratkan data-data pemerintah dapat kembali dianalisa dan didistribusikan kembali oleh publik. Tentu dengan tetap menyebutkan sumber data. 

 

Tujuannya agar publik bisa memantau capaian pemerintah, dapat mendorong pemerintah mengambil kebijakan berdasarkan data untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan lebih jauh, terbuka ruang partisipasi publik dalam perumusan kebijakan.

 

Sebagai salah satu insiator OGP, Indonesia telah membentuk sekretariat bersama Open Government Indonesia (OGI) yang melibatkan tidak hanya unsur pemerintah tapi juga perwakilan masyarakat sipil. Rencana Aksi Nasional Keterbukaan Pemerintah 2016-2017 juga telah diluncurkan pada 16 Desember 2016. Komitmen keterbukaan tata pemerintah ini tidak hanya ada di tingkat nasional, Presiden Joko Widodo juga meminta diikuti pemerintah daerah, BUMN, perguruan tinggi juga institusi lainnya.

 

Selain meminta setiap lembaga pemerintah mempublikasikan data di masing-masing website  lembaga, pemerintah juga telah meliris www.data.go.id. Jutaan data-data yang selama ini tertutup akan semakin mudah diakses. Masalahnya, bagaimana kesiapan jurnalis untuk memanfaatkan data ini, menganalisa, memvisualkan kembali agar mudah dipahami publik?

 

Bergerak dari latar belakang ini, Aliansi Jurnalis Independen (AJI) bekerjasama dengan USAID CEGAH dalam melaksanakan program “Better Journalism for Better Accountability Community”. Program ini berinisiatif untuk membangun ekosistem agar jurnalis mempunyai kemampuan memanfaatkan open data lebih maksimal. Secara umum program ini bertujuan untuk mengkampanyekan transparansi, keterbukaan informasi dan data pemerintah dalam isu layanan publik.

 

Salah satu kegiatan dalam program adalah Training Jurnalisme Investigasi dengan metode Jurnalisme Berbasis Data (Data Driven Journalism). Training telah dilaksanakan di empat daerah, salah satunya di Medan, Sumatera Utara, dan telah diikuti 20 jurnalis di region Sumatera.

 

Pasca training, peserta yang terpilih dari setiap region dapat bekerja dalam tim maupun perorangan membuat liputan investigasi berbasis data yang berkaitan dengan isu kesehatan. Peserta juga didampingi selama melakukan liputan dengan seorang mentor.

 

Diakhir program, AJI akan mengadakan diskusi untuk membahas hasil liputan peserta beasiswa. Salah satu isu yang diangkat peserta beasiswa adalah mengenai tingginya warga Sumut dalam mengobati diri sendiri secara tradisional dibandingkan dengan menggunakan pengobatan modern. Beberapa hal yang akan didiskusikan seperti: Apa saja tantangan selama mencari data dan memanfatkannya untuk kerja jurnalistik? Bagaimana akses data di daerah? Bagaimana data membantu analisis terhadap potensi pengobatan yang diambil warga Sumatera Utara? Upaya apa yang dapat dilakukan bersama untuk mendorong keterbukaan data di Sumatera Utara?

Pembicara

  • Abdul Manan (Mentor/ TEMPO)
  • Marina Nasution (DDJ Fellows)
  • Kepada Dinas Kesehatan Sumatera Utara*