Graduation acara AJI dan IBCWE. Foto Independen.id

Lokakarya untuk Jurnalis bertema

Graduation acara AJI dan IBCWE. Foto Independen.id


Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia bersama Indonesia Business Coalition for Women Empowerment (IBCWE) dan Investing in Women (IW)  mengundang jurnalis Indonesia, untuk mengikuti program lokakarya dengan tema “Kesetaraan Gender di Dunia Kerja”. Sejumlah 20 orang jurnalis terpilih akan mendapatkan kesempatan untuk mengikuti rangkaian kegiatan lokakarya jurnalistik dan mentoring yang ditujukan untuk meningkatkan pemahaman awak media mengenai gender dan pemberdayaan ekonomi perempuan yang diwujudkan antara lain melalui kesetaraan gender di dunia kerja dan pemberdayaan perempuan secara ekonomi,  serta bagaimana membuat liputan yang menarik dan mudah dipahami oleh publik mengenai isu tersebut.

 

Lokakarya Jurnalis Apakah ini?

Ini adalah program peningkatan kapasitas jurnalis mengenai pemberdayaan ekonomi perempuan yang antara lain dicapai melalui upaya mencapai kesetaraan gender di dunia kerja. Data dari Biro Pusat Statistik (BPS) per Februari 2017 menunjukkan, Indonesia memiliki 131,55 juta pekerja di pasar tenaga kerja domestik. Berdasarkan jenis kelamin, tingkat partisipasi perempuan sekitar 55 persen dan laki-laki 83,1 persen. Jika ditilik dari sektor, 37,4 persen perempuan bekerja di sektor formal. Sedangkan pekerja laki-laki mencapai 62,6 persen. Ketidakseimbangan ini diperburuk dengan kesenjangan penghasilan berdasarkan gender yang mencapai 34 persen di sektor formal, dan 50 persen di sektor informal.

 

Ketidaksetaraan tingkat partisipasi perempuan di angkatan kerja bisa menjadi indikasi peran perempuan dalam ruang publik. Padahal memiliki akses untuk mengambil peran dalam area publik adalah hak dasar setiap orang, termasuk perempuan.

 

Melalui lokakarya ini, jurnalis diharapkan bisa memiliki pemahaman tentang:

1. Apa pentingnya pemberdayaan ekonomi perempuan yang diwujudkan melalui kesetaraan gender di dunia kerja?

2. Bagaimana cara  meliput isu pemberdayaan ekonomi perempuan yang terkait dengan usaha mewujudkan kesetaraan gender di dunia kerja yang menarik target audiens?

3. Apa saja isu-isu pemberdayaan ekonomi perempuan, khususnya di dunia tenaga kerja, yang relevan dengan tingkat kemajuan perekonomian suatu negara?

 

Melalui kegiatan ini, jurnalis juga dapat bertemu dan berdiskusi dengan pakar-pakar pemberdayaan ekonomi perempuan khususnya terkait isu kesetaraan gender di dunia kerja.

 

Di mana dan Kapan Kegiatan Diadakan?

Lokakarya akan diadakan pada    : 

Hari dan Tanggal                     :  20 - 22 Juli 2018 

Lokasi                                       :  Jakarta

Mentoring bagi 20 peserta terpilih akan dilaksanakan 2 bulan setelah lokakarya.

 

Siapa yang dapat menjadi peserta?

  • Jurnalis dari berbagai platform media (cetak, daring/online, televisi, dan radio)
  • Berpengalaman kerja minimum 2 tahun
  • Bersedia mengikuti seluruh materi lokakarya di Jakarta dengan biaya transportasi dan akomodasi ditanggung oleh panitia*

*Khusus bagi peserta dari luar Jabodetabek

 

Bagaimana cara menjadi peserta kegiatan ini?

Untuk mengikuti proses seleksi, Anda harus mendaftar dengan mengunduh dan mengisi formulir lamaran dan usulan liputan melalui tautan http://bit.ly/workshopIBCWE Kirimkan selambat-lambatnya tanggal 6 Juli 2018 --- diperpanjang 12 Juli 2018. Jika terpilih menjadi peserta, Anda akan diminta untuk mengirimkan CV terbaru dan surat rekomendasi dari Kepala Pemberitaan atau Editor Pelaksana untuk mengikuti kegiatan ini.

 

Bagaimana proses seleksi?

Seleksi dilakukan terhadap semua lamaran yang masuk. Prioritas diberikan kepada pelamar yang memberikan usulan liputan paling baik, keterwakilan wilayah, dan komposisi gender. Setiap pelamar akan menerima pemberitahuan mengenai terpilih atau tidaknya sebagai peraih beasiswa via email.

 

Apa kriteria usulan liputan terbaik?

1.  Topik seputar pemberdayaan ekonomi perempuan dan kesetaraan gender di dunia kerja

2.   Orisinal, mengangkat masalah-masalah yang belum dikupas media lain

3.   Liputan menantang, namun tetap realistis

4.   Menggunakan narasumber yang kredibel

 

Bagaimana proses setelah seleksi?

Panitia akan mengirimkan pemberitahuan resmi mengenai terpilih atau tidaknya jurnalis yang sudah mendaftar dalam program ini. Peserta terpilih akan mengikuti lokakarya selama tiga hari mulai tanggal 20 - 22 Juli 2018 di Jakarta.

 

Program ini akan menanggung biaya belajar selama tiga hari termasuk material pendukung, akomodasi dan konsumsi selama lokakarya berlangsung, transportasi dari kota asal ke lokasi lokakarya dan sebaliknya.

 

Bagaimana proses setelah lokakarya?

Di akhir lokakarya peserta akan mendapat tugas untuk membuat liputan mendalam mengenai pemberdayaan ekonomi perempuan khususnya terkait isu kesetaraan gender di dunia kerja. Waktu yang diberikan untuk peserta adalah sekitar dua bulan. Dalam rentang waktu dua bulan tersebut peserta memiliki kesempatan untuk mengelaborasi ide melalui diskusi bersama mentor sesuai waktu yang diberikan melakukan liputan, serta menyempurnakan karya jurnalistiknya, hingga tayang di media masing-masing peserta.

 

Di akhir program, karya jurnalistik peserta akan didokumentasikan melalui penerbitan buku dengan dua bahasa, Indonesia dan Inggris. Peserta juga akan diundang kembali untuk mengikuti kegiatan lokakarya pembelajaran selama satu hari. Tujuannya adalah untuk berbagi pengalaman dan pembelajaran selama lokakarya dan mentoring.

 

Perlu informasi lebih jelas?

Jika rekan-rekan membutuhkan informasi lebih jelas terkait topik ataupun informasi lainnya, silakan mengirim email ke: beasiswa.aji@gmail.com dengan subjek: Lokakarya IBCWE

Atau hubungi Sdri. Endah: 0811-147-991 dan Putri: 0857-7487-8066

 

Komentar Angkatan I Peserta Journalist Workshop 2017

Lokakarya jurnalisme kesetaraan gender ini penting untuk mengasah kepekaan sekaligus empati terhadap isu-isu ketimpangan gender yang kita temui sehari-hari, dalam menghasilkan karya jurnalistik. Saya sendiri beruntung bisa mengikuti lokakarya ini, karena selain semakin membuka wawasan terkait masalah ketimpangan gender dan mempertajam sensitivitas sebagai jurnalis. Diskusi dan materi di dalamnya juga sangat konstruktif.  Buat saya lokakarya ini wajib diikuti oleh semua jurnalis, terlebih laki-laki, karena budaya patriarki yang kental di masyarakat seringkali membuat laki-laki kurang peka akan isu kesetaraan gender ini.

Bimo Aria Fundrika - Jurnalis Viva.co.id (Peserta Journalist Workshop 2017)

 

Jurnalis perlu banyak menggali masalah-masalah yang merugikan seluruh masyarakat akibat pandangan yang amat merendahkan perempuan. Pelatihan ini bertujuan memfasilitasi wartawan utk memunculkan beragam ide liputan multi media seputar gender atas dasar prinsip kemanusiaan. Sehingga makin banyak masyarakat mengerti betapa pandangan yang salah, apalagi dengan mengatasnamakan ajaran agama yang tidak mempertimbangkan konteks implementasinya, merusak sendi-sendi kehidupan dan menghambat kemajuan masyarakat dan bangsa.

Ati Nurbaiti / Jakarta Post (Kepala Sekolah Workshop Journalist 2017)

 

Masih banyak masalah terkait "gender" di dunia kerja. Sayangnya tidak semua pihak menyadari, bahkan dari pihak yang banyak dirugikan -perempuan. Lokakarya ini membuka cakrawala jurnalis bahwa masih banyak ketertindasan berdasar ketidaktahuan dan ketidaksadaran.  Jurnalis dengan penanya diharap mampu membukakan cakrawala baru ini dan menyadarkan banyak pihak. Dengan demikian keadilan gender di dunia kerja sedikit demi sedikit dapat tercipta.

Umaya Khusniah / Gatra (Peserta Journalist Workshop 2017)

 

Seringkali pandangan stereotip, seksis, bias gender, dan ketidak-setaraan terjadi di media (dalam pemberitaan, struktur personalia di kantor, dan kebijakan redaksi,) karena para tidak tahu. Tapi juga sering karena jurnalis menganggapnya sepele, remeh temeh, atau merupakan hal yang wajar saja. Ada pula yang menggunakan seksisme sensasional, misalnya, justru sebagai resep agar media menarik perhatian dan dibaca kalangan lebih luas –khususnya di era digital. Lokakarya ini, seperti terbukti dari yang sudah terjadi tahun lalu, membuka mata, dan kesadaran, para jurnalis, perempuan dan lelaki tentang sesuatu yang selama ini diterima begitu saja.

Ging Ginanjar / BBC Indonesia ( Wakil Kepala Sekolah Workshop Journalist 2017)

 


Sumber: Independen.id