Representasi Lokal Penting Dalam Membuat Konten TV /Radio

SIARAN PERS

 

Representasi Lokal Penting Dalam Membuat Konten TV/Radio

"Dalam membuat konten lokal, lokasi bukan yang utama tetapi representasi atau prespektif yang utama, "kata Dandhy Laksono dalam workshop singkat tentang membuat berita mendalam pada hari Kamis, 28 September 2017 di Cheese Cake Jakarta Pusat. Worskhop ini merupakan rangkaian acara Penghargaan Konten Lokal kategori TV dan radio yang diselenggarakan oleh AJI (Aliansi Jurnalis Independen) dan Yayasan Tifa.

 

Dandhy Laksono yang pernah mengelilingi Indonesia dalam Ekspedisi Indonesia Biru, memberi beberapa tips dalam membuat konten lokal, agar tidak bernuansa Jakarta sentris. Menurut dia, sebuah konten TV atau radio dapat disebut lokal, apabila memenuhi beberapa syarat yaitu lokasi, prespektif, dialog multikultur, aktor lokal dan packaging. Dandhy memberi kritik bahwa banyak tayangan TV terutama, yang seolah mengangkat berita atau konten lokal, tetapi dengan perspektif Jakartasentris. Aktor-aktor atau pelaku lokal tidak diberi ruang. Hal seperti ini yang harus diperbaiki.

 

"Tantangan bagi jurnalis sekarang adalah keistimewaan kedekatan pada narasumber yang dulu dimiliki sekarang makin hilang," ujar Arfi Bambani, Sekjen AJI ketika memberikan sambutan dalam pembukaan acara . Arfi memberi gambaran bagaimana sekarang ketua-ketua organisasi jurnalis seperti AJI, PWI, IJTI belum pernah diundang secara khusus oleh Presiden Jokowi. Sementara Presiden sudah 2 kali mengundang makan siang para blogger maupun Vlog. Arfi menekankan bahwa para jurnalis harus lebih mendalam lagi ketika membuat berita, melayani kebutuhan informasi publik.

 

Penghargaan Konten Lokal kategori TV dan Radio tahun 2017 ini adalah kali kedua yang diselenggarakan AJI Indonesia, sejak pertama kali diadakan pada tahun 2016. Tujuan kegiatan ini adalah mengapresiasi konten-konten lokal di TV dan Radio, agar makin berkualitas, di tengah-tengah kondisi industri penyiaran yang cenderung Jakartasentris.

 

Pada tahun 2017 ini dewan juri kategori radio adalah Yance Piris, Dyah Citra Prastuti dan Lestari Nurhajati, sementara dewan juri kategori TV adalah Satrio Arismunandar, Afwan Purwanto dan Murti Kusuma. Para dewan juri ini akhirnya memutuskan 3 pemenang terbaik untuk masing-masing kategori (TV dan Radio).

 

Kategori Radio, pemenang terbaik pertama adalah Ria Apriyani  dari KBR dengan judul “Koperasi Swara Penyangga Hidup Waria”. Pemenang Terbaik kedua  Ustad Mukorobin (Robin Abdulrahman) dari RRI Purwokerto dengan judul: “Pagi Yang Dinanti, Merangkul Partisipasi”. Pemenang dari Radio Lokal Zainudin Syafari dari Radio Global FM Lombok : “Lebaran Topat, Warisan Leluhur, Merawat Syukur”. Mereka bertiga mendapat hadiah masing-masing sebesar 5 juta.


Sementara untuk Kategori TV, pemenang terbaik pertama adalah Wina Tryanita Sari Simanjuntak  dari DAAI TV dengan Judul : “Berdaya dalam Sunyi”. Pemenang terbaik kedua adalah M.Pramudita , Raf Raf Kahfi, Indra Setiawan Widodo dari CNN Indonesia dengan judul: “M Shokib – Penjaga Warisan Muria”.  Dan pemenang dari Televisi Lokal Suherman dari Megaswara TV: “Warga Manfaatkan Irigasi Menjadi Sumber Ekonomi”. Masing-masing pemenang kategori TV juga mendapatkan hadiah sebesar 5juta.

 

Penjaringan karya-karya ini sudah dimulai sejak Mei sampai Agustus 2017, dengan tema karya Pemberdayaan Masyarakat. Persyaratan karya yang dinilai adalah yang pernah tayang di radio maupun TV antara periode Juni 2016 sampai Juni 2017.

 

 

Bidang Penyiaran AJI Indonesia

Bayu Wardhana

0817-128-615