80% Penyakit Menular Manusia Berasal dari Hewan

AJI  (Aliansi Jurnalis Independen) dan FAO (Food and Agriculture Organization) menyelenggarakan editor meeting dengan tema Protecting Live and Livelihood pada 7 Februari 2018 di Jakarta. Pertemuan editor ini secara khusus membahas penyakit menular yang dari hewan ke manusia atau dikenal dengan istilah zoonosis. Pembahasan zoonosis menjadi penting karena dari semua penyakit menular di manusia, 80%-nya bersumber dari hewan.

Zoonosis atau penyakit hewan menular sebenarnya masalah laten yang masih terus mengintai kehidupan. Seperti yang dikenal publik, flu burung, anthrax, SARS, ebola. Ketika wabah penyakit ini sedang merebak, maka publik pun panik dan media massa menjadi saluran informasi yang efektif. Namun ketika wabah ini mereda, maka perhatian publik maupun media massa pun menurun. Padahal sejatinya, ancaman penyakit hewan menular ini terus ada. Dan bila tidak disertai kesadaran dan pencegahan yang tepat, wabah bisa muncul kembali, demikian paparan Muhammad Andi Hidayat, Kepala Seksi Epistimologi, Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian.

Pada paparan kedua, tampil Luuk Schoonman, Chief Technical Advisor FAO-ECTAD  (Emergency Centre for Transboundary Animal Diseases) menjelaskan selama 12 tahun (sejak 2006) FAO melakukan intervensi pencegahan penyakit hewan menular, khususnya flu burung, dengan dukungan pemerintah Indonesia. Telah melakukan pelatihan pada 3.000 petugas lapangan di 32 propinsi, sehingga wabah flu burung ini berhasil dieliminir.

Namun menurut Luuk, ancaman baru muncul, seperti ditemukan penyakit hewan menular yang baru seperti Nipah, bahaya dampak Resistensi Anti Mikroba atau AMR dll. Sementara itu ancaman dari penyakit lama seperti flu burung, anthrax masih terus ada. Karena itu perlu sinergi semua pihak."FAO mengenalkan konsep One Health, yaitu  upaya kolaborasi para praktisi kesehatan manusia maupun hewan, serta para ahli lingkungan hidup dan institusi terkait untuk memecahkan masalah zoonosis , sehingga mencapai tingkat kesehatan yang optimal, "kata Luuk Schooman.

Hesthi Murthi dari AJI Indonesia memaparkan hasil monitoring media pada tahun 2016-2017 tentang isu zoonosis. Pada umumnya media massa baru memuat berita tentang zoonosis ketika ada diskusi, seminar atau kegiatan yang diadakan FAO, Kementerian Pertanian atau lembaga terkait. Berita yang diturunkan lebih berita langsung, bukan hasil liputan mendalam. Masih sedikit media yang menurunkan berita liputan mendalam soal zoonosis ini.

Beberapa editor memberikan masukan kepada piahk FAO maupun Kementerian Pertanian, bahwa informasi yang dipaparkan tentang zoonosis adalah berita menarik, Banyak data yang bisa diangkat menjadi sebuah berita. Namun seringkali di lapangan ada beberapa kendala, seperti susahnya mengakses data maupun mendapatkan konfimasi dari lembaga terkait, seperti dinas pertanian, dinas kesehatan. Atau seringkali ada informasi yang menarik menjadi berita, namun informasi disampaikan oleh instansi yang tidak bisa memberikan informasi lebih mendalam. "Misalnya naiknya harga telur atau ayam petelur. Kami para jurnalis mendapatkannya dari BPS. Tetapi mereka tidak bisa menjelaskan penyebabnya. Ternyata setelah mengikuti editor meeting, saya baru tahu sebabnya karena wabah penyakit yang mengakibatkan ayam tidak bisa bertelur,"kata Rochimawati, Redaktur Viva.co.id.

Pertemuan editor ini dihadiri oleh 20-an editor dari media cetak, online, radio maupun televisi. Sebagian besar adalah editor media nasional seperti KompasTV, CNN Indonesia, KBR, Suara.com, SindoWeekly, JakartaPost, Liputan6.com, Viva.co.id dll. Selain itu, hadir juga editor media dari 3 propinsi, yaitu Pontianak Post (Kalimantan Barat), Harian Metro (Sulawesi Utara), Radar Bali (Bali).